Toga, Do,a dan Harapan
Hari ini, aku berdiri dengan selempang dengan toga yang ku pegang dan senyum yang sulit kusembunyikan. Namun jauh di dalam hati, ada rasa haru yang mengalir deras. Setiap lembar perjalanan kuliah seakan terputar kembali; langkah pertama memasuki area kampus menggunakan masker, selalu mencuci tangan, menjaga jarak, masuk ruang kelas, pertemuan-pertemuan canggung dengan teman sekelas, hingga malam-malam panjang saat skripsi terasa tak berujung. Semua itu kini menjadi kenangan indah yang akan kuceritakan suatu hari nanti.
Toga itu akhirnya ku kenakan. Bertahun-tahun belajar, begadang, mengeluh dalam hati, lalu bangkit lagi semuanya seakan terbayar di satu momen singkat saat namaku dipanggil naik panggung, togaku dipindahkan dan rasa lega setelah turun dari panggung. Wisuda mengajarkanku satu hal; pencapaian ini bukanlah akhir dari segalanya. Justru ini adalah pintu baru yang mengantarkanku ke dunia nyata. Dunia di mana perjuangan akan lebih berat, tanggung jawab akan lebih besar, dan mimpi harus diperjuangkan lebih keras lagi. Hari ini, aku bersyukur. Untuk setiap air mata, setiap tawa, setiap doa, dan setiap orang yang menjadi bagian dari kisah ini. Semoga lembar baru setelah wisuda ini bukan hanya tentang mengejar kesuksesan pribadi, tapi juga memberi manfaat bagi banyak orang. Kini aku paham, bahwa perjalanan kuliah bukan hanya tentang nilai dan tugas. Ia adalah tentang bagaimana kita belajar menjadi manusia yang lebih sabar, lebih tegar, dan lebih berani menghadapi kenyataan. Semua dosen dengan segala tuntutannya, semua ujian yang membuat panik, hingga skripsi yang rasanya tak kunjung selesai semua itu membentuk versi terbaik dari diriku hari ini.
Aku sadar, wisuda bukan hanya milikku seorang. Di baliknya ada wajah-wajah yang tak pernah lelah mendorongku maju. Orang tuaku yang mungkin tak banyak bicara, tapi diam-diam menahan lelah, menahan rindu, bahkan menahan banyak hal hanya demi memastikan anaknya bisa menyelesaikan pendidikan. Senyum mereka di hari ini adalah penghargaan terbesar, lebih berharga dari selembar ijazah yang kubawa pulang.
Mama, Dae hari ini akhirnya aku mengenakan toga, sesuatu yang selalu kalian impikan sejak dulu. Setiap tetes keringat kalian, setiap doa yang lirih terucap, kini menjelma menjadi senyum di wajah kalian. Terima kasih sudah menjadi rumah tempat aku kembali, pelabuhan tempat aku beristirahat, dan alasan terbesar aku berjuang. Gelar ini hanyalah sebuah nama, tapi rasa bangga di hati kalian adalah hadiah paling indah untukku.
Aku juga berhutang banyak pada sahabat-sahabatku. Mereka yang selalu menemaniku, yang menghibur ketika aku menangis karena revisi tak kunjung selesai. Kita sudah menulis kisah penuh warna; tawa di kantin, panik menjelang ujian, dan banyak hal-hal seru lainnya. Hari ini, kita berdiri bersama, tapi besok mungkin jalan kita akan berpisah. Meski begitu, persahabatan ini tidak akan pernah hilang; ia akan selalu hidup dalam ingatan.
Wisuda juga membuatku merenung. Semua pencapaian ini hanyalah sebuah awal, bukan akhir. Dunia setelah kampus adalah ruang yang lebih luas, penuh tantangan, dan kadang menakutkan. Namun, aku percaya, apa yang kupelajari selama bertahun-tahun bukan hanya teori dan angka-angka, tapi juga tentang keberanian untuk mencoba, kemampuan untuk bertahan, dan keyakinan bahwa setiap proses pasti membawa hasil. Aku tahu, akan ada masa-masa sulit setelah ini. Akan ada penolakan, kegagalan, bahkan rasa ingin menyerah. Tapi aku berjanji pada diriku sendiri: tidak akan berhenti melangkah. Karena hari ini sudah menjadi bukti, bahwa kerja keras, doa, dan kesabaran tidak pernah sia-sia.
Hari ini aku bersyukur. Untuk setiap air mata yang jatuh diam-diam di bantal tidurku. Untuk setiap pelukan dan doa yang membuatku bangkit lagi. Untuk setiap orang yang dengan caranya masing-masing hadir dalam perjalanan ini. Dan untuk masa depan, aku berjanji: gelar ini tidak akan menjadi beban, melainkan cahaya. Cahaya yang akan kupakai untuk menolong, menginspirasi, dan memberi manfaat bagi orang lain.
Selamat tinggal, masa kuliah. Terima kasih telah menempaku. Dan selamat datang, dunia baru. Aku siap berjalan, dengan doa dan harapan yang terus menyala.
Makassar 11,september,2025.
%20(1).jpg)
Komentar
Posting Komentar