PERANG TELAH USAI


 25 November 2025

Pagi itu, langkahku terasa berat. Bukan karena tas yang kupikul, tapi karena hati yang setengahnya tertinggal di rumah. Senyum ibu yang mencoba tegar, genggaman ayah yang hangat, dan suara adik yang memanggil dari jauh semua melekat erat di ingatan. Aku sadar inilah awal dari sebuah perjalanan panjang. Aku bukan lagi anak yang selalu pulang di sore hari, melainkan seseorang yang harus belajar hidup jauh dari pelukan rumah.  Aku akan belajar dari nol tentang mandiri, tentang bertahan, dan tentang bagaimana menemukan rumah di hati sendiri. Aku tidak tahu apa yang menunggu di depan, tapi aku percaya, setiap langkah ini adalah bagian dari takdir yang sedang membentukku. Mungkin akan ada rindu yang menyesak, lelah yang menguji, dan kesepian yang tiba-tiba datang. Tapi aku juga yakin, akan ada tawa, cerita, dan pencapaian yang membuat semua perjuangan ini layak dijalani.

Jika di ceritakan perjalanan ini cukup panjang terkadang di iringi tangis terkadang di iringi tawa, rasanya campur aduk.

8 Agustus 2025

Hari ini menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan panjang yang telah saya tempuh. Sidang skripsi yang selama ini hanya saya bayangkan, kini telah menjadi nyata. Semua rasa gugup, takut, dan cemas yang menghantui beberapa hari terakhir akhirnya terbayar dengan senyum lega di akhir sesi. Perjalanan ini bukan hanya soal penelitian dan penulisan, tapi tentang bagaimana saya belajar bertahan di tengah rasa lelah, bagaimana saya mengatur waktu, dan bagaimana saya tetap berjalan meski kadang ingin berhenti. Saya juga belajar bahwa kegagalan kecil di tengah proses bukanlah akhir dari segalanya. Ada banyak revisi, banyak kritik, bahkan momen di mana saya merasa hasil penelitian ini tidak cukup baik. Namun, justru dari situlah saya belajar untuk memperbaiki, untuk sabar, dan untuk percaya bahwa setiap proses memiliki waktunya sendiri.

Jika ada satu hal yang saya pelajari dari perjalanan ini, itu adalah 'proses tidak pernah mengkhianati hasil'. Meski hasilnya kadang tak seindah yang kita bayangkan, namun prosesnya selalu membawa kita menjadi versi diri yang lebih baik. Perjalanan ini mengajarkan saya untuk tidak takut mencoba, untuk tidak malu bertanya, dan untuk selalu menghargai proses. Bahwa hasil hanyalah puncak kecil dari gunung perjuangan yang telah kita daki bersama. Betapa banyak air mata yang jatuh diam-diam, bukan karena sedih, tapi karena takut tak sanggup. Namun, hari ini aku belajar "rasa takut bukan tanda untuk berhenti, melainkan tanda bahwa kita sedang berada di ambang sebuah pencapaian".

Sepotong Kata Pengantar Penulis

Penyusunan Karya Ilmiah ini dilalui dengan berbagai tantangan, rasa ragu, dan tekanan yang selalu datang silih berganti sepanjang perjalanan. Menulis Karya Ilmiah ini bukan hanya sekedar Menyusun kata melainkan sebuah perjalanan jiwa yang mengajarkan penulis arti kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan. Ada malam-malam yang dilalui dengan kebingungan, ada pagi-pagi yang terasa berat untuk memulai, dan ada titik di mana penulis nyaris menyerah. Namun di Tengah segala keterbatasan yang penulis miliki, Tuhan selalu mengirimkan banyak orang-orang baik yang tak henti memberikan semangat dan doa untuk penulis. Secara khusus, Penulis ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih yang tak terhingga, dengan penuh rasa haru dan cinta, terima kasih yang mendalam penulis haturkan kepada orang tua tercinta atas semua doa, dukungan dan kasih sayangnya selama ini. Bapak saya tercinta yang selalu mengajarkan arti tanggung jawab dan kerja keras, terima kasih selalu mengusahakan apapun untuk penulis, dan untuk Ibu saya tercinta terima kasih banyak untuk semua doa-doa yang selalu kau langitkan untuk penulis, terima kasih sudah yakinkan penulis kalo penulis bisa lalui semua ini, meskipun beliau hanya tamatan SMA beliau selalu berpesan kepada penulis “Pendidikan nomor satu apapun yang terjadi harus kuliah, biarpun saya dan bapakmu hanya lulusan SMA tapi kamu harus sarjana” ibu terima kasih selalu jadi alasan penulis untuk tetap hidup dan bertahan sejauh ini. Terima kasih untuk semua hal yang selalu engkau korbankan untuk penulis sampai kapan pun penulis tidak akan bisa membalas semua jasamu, tolong hidup lebih lama ibu karena penulis butuh sosokmu selamanya. Dan di kehidupan selanjutnya penulis ingin menjadi anakmu lagi, lagi dan lagi.

Terakhir Yang tak kalah penting, penulis mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada sosok yang Bernama ‘Nisa’ yang telah bertahan sejauh ini. Terima kasih sudah bertahan, maaf untuk semua luka yang selalu aku berikan, terima kasih sudah bisa mengendalikan diri dengan baik, terima kasih untuk memilih tetap hidup dan bertahan di atas benturan-benturan yang kamu hadapi, terima kasih sudah berjuang tanpa henti, seorang anak Perempuan dengan banyak harapan yang ada dipundaknya. Terima kasih sudah menyakinkan dirimu sendiri kalau semuanya akan baik-baik saja teruslah melangkah setiap Langkah kecil yang kamu ambil apapun yang terjadi belajarlah menerima dan mensyukuri apapun yang kamu dapatkan. Rayakan apapun dalam dirimu dan jadikan dirimu bersinar dimanapun tempat mu bertumpu. Aku berdoa, semoga Langkah dari kaki kecilmu selalu dikelilingi oleh orang-orang baik, serta mimpimu satu-persatu akan terwujud aamiin.

Terima kasih sudah percaya bahwa badai pun punya ujung. Kini, kita melangkah lagi, dengan hati yang lebih kuat, dan mimpi yang lebih tinggi.

MARI MELANJUTKAN HIDUP KITA DENGAN BAIK NISA....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Toga, Do,a dan Harapan

what a blessing that life goes on